Membuat Cerita Sejarah

        Ketika Buku pemutar waktu


Sekolah sekarang tidak terasa,waktu terus berlalu,aku belum siap untuk mencoba belajar ketingkat selanjutnya terutama harus berpisah dengan kawanku...

Namanya Permata,kita terpaksa terpisah,ia masuk sekolah yang berbeda denganku.


Namaku Rema,dan kini aku naik kelas 1 SMA

"Ah pusing banget!sekolah tapi dirumah syaratnya banyak.." kataku

Permata hanya tertawa kecil dan berkata "namanya juga era covid,kemaren mama aku juga sibuk beli persiapan kaya handsanitizer,masker gituu" 


"Males ga sih kalau hidup kaya gini,dirumah kan perlu Wifi,apalagi kalau soalnya sudah harus lihat internetlah" kataku dengan nada kesal

Permata hanya tersenyum kecil,kami sedang menyiapkan bahan-bahan MPLS dirumahku.


"Oh iya kamu niatnya pilih jurusan apa re?" Tanya Permata

"IPS lah...soalnya aku penasaran sama sejarah,apalagi sejarah Indonesia,nih aku udah beli buat persiapan" aku mengambil buku sejarah ku,kutunjukan pada permata namun ketika aku tunjukan Tiba2 ruangan menjadi gelap.


kubuka mataku dan ketika aku lihat,Langit begitu sejuk pemandangannya begitu tenang namun ketika aku hendak berdiri dengan permata,kulihat didepanku sebuah bangunan sederhana tiba-tiba seseorang dibelakang kami menyuruh kami memasuki bangunan itu.


Ketika kami masuk,Kamu tidak menyangka ini adalah sebuah sekolah,Pakaian murid-muridnya masih terlihat tradisional dan mereka bersiap-siap mengambil buku catatan masing-masing.


Pembelajaran dimulai,beberapa buku yang kulihat nampaknya masih menggunakan bahasa melayu sehingga aku banyak bertanya kepada murid-murid disana.


Ketika kami diberi tugas,para siswa segera pergi ke perpustakaan dan mengambil buku untuk menemukan jawaban dari tugas yang guru berikan


"Cape banget harus dibaca,Ini kita dimana sih?!" kataku

"Mana aku tau...Kamu bawa handphone ga?" Tanya Permata 

"Engga,keknya terpaksa harus ikut mereka juga deh " jawabku


Para murid terlihat bahagia dan tenang membaca bukunya dan saling berbagi cerita.Ketika jam istirahat para siswa bermain bola sedangkan siswi bermain lompat tali,kami segera ikut permainan lompat tali,ketika kami sedang asik bermain seorang siswi berkata "Nanti malam kalian segeralah dirumah,jikalau mendengar tembakan lari saja" 


Seketika itu juga aku dan permata mengingat bahwa kami bukan asli dunia ini,anggapanku sepertinya kami berada di era penjajahan Belanda,seketika aku mencoba mencari sesuatu ditanganku,baru saja aku ingat,aku lupa membawa buku sejarahku.


Bel berbunyi dan kami segera melanjutkan pelajaran selanjutnya.Setelah beres semua siswa dipersilahkan pulang,disaat ini aku dan permata segera mencari buku yang tidak sengaja membawa kami kesini.


Tak menyamgka hari semakin sore,kami terpaksa mencari buku itu dengan diam-diam.Seberapa lama kami mencari hasilnya tetap nihil,waktu semakin berjalan menuju malam.ketika kami mencari buku didalam suatu kelas, terdengar hentakan kaki banyak orang sambil berteriak kencang membuat bulu kuduk kami merinding.

"Kita cari tempat aman aja yuk Re" kata permata,aku menggangguk dan segera berjalan mencari tempat sepi supaya kami aman.


Ketika kami berjalan,seseorang sepertinya menarik tangan permata yang berada didepanku,aku mengerjarnya dan aku menarik tangan sebelah permata 


Orang itu menyarankan kami untuk mengikuti dia,awalnya kami tidak percaya namun dia berkata "Saya hanya rakyat biasa,tidak punya kekuasaan".Aku dan Permata saling bertatapan dan akhirnya kami mau mengikutinya,Ia menyarankan kami untuk tinggal dirumahnya sementara,Esok hari ia berjanji menolong kami mencari buku miliku.jalan yang kami lewati sangat gelap dan penuh rumput,kami harus mengendap-endap dengan penuh suara Tembakan.


Suasana rumahnya sangat sederhana,rumah itu menggunakan lentera untuk penerangan,tidak memakai listrik.Ketika pagi tiba kami segera pergi menuju sekolah,ketika dijalan banyak sekali bercak merah mengelilingi jalan.Terlihat menyeramkan namun kami harus tetap berjalan,tidak kusangka buku yang kucari-cari selama ini berada di kursi tempat yang biasa kududuk.


"Terimakasih kawan,s kami tak akan melupakan jasamu,bolehkah kami mengetahui namamu?" Kataku berterimakasih.


Orang itu berkata "tidak perlu,aku tidak akan tinggal didunia ini dengan lama,sebaiknya kalian bergegaslah kabur..."


Kami awalnya kebingungan namun kami terpaksa melanjutkan perjalanan,Kubuka buku sejarah itu dan tak menyangka tempat kami bergetar sebelum tiba-tiba menjadi gelap.Aku dan Permata segera menutup mataku dan ketika kubuka...kami kembali ke kamarku.


"Orang tadi... sebenernya siapa?" Tanya Permata 

"Entahlah,tapi aku senang dia mau membantu kita,tanpa dia kita sepertinya tidak bisa pulang" jawabku

"Hidup tahun segitu berat ya...."

" Bener banget,ga ada listrik, Handphone, semuanya dari buku,hidup juga mereka udah seneng ya..." kataku

"Yah...ternyata walau covid seengaknya kita masih bisa hidup aman dirumah walau banyak masalah" kata Permata.


Kami kembali mengerjakan tugas kami yang diharuskan untuk MPLS.


Tamat.....

Komentar